Berkelana Tanpa Peta


Ada kalanya bertujuan untuk tersesat itu menyenangkan. Sekedar berkelana tanpa peta, tanpa arah pasti, sekedar membiarkan langkah kaki kita dituntun oleh intuisi.

Ketika kepala sedang penat dan rutinitas kian menjemukan dan merobotkan, kadang ingin rasanya sekedar berjalan-jalan di alam liar. Untungnya rumah saya tak terlalu jauh dari hutan dan perbukitan. Hanya tinggal bermotor santai selama 40 menit sudah sampai di tujuan.

Motor saya taruh di kaki bukit, sementara saya mulai menaiki bukit yang terbilang cukup landai. Di hutan pinus yang terbentang luas, hanya segelintir manusia yang bercokol di sana. Kalaupun ada, kebanyakan hanyalah para petani yang mencabuti dan menyabit rumput untuk pangan kuda.

Smartphone, alias telpon pintar, menjadi dungu di bukit ini. Lantaran sinyal yang sama sekali nol. Nihil. Untung kompas sudah siap dalam kantung celana. Ingat, saya berkata tanpa peta, bukan tanpa kompas. Bagi seorang pemula pergi ke hutan tanpa kompas itu sama saja dengan bunuh diri.

Setelah memastikan arah mata angin dan arah tempat berpulang, saya pun mulai berkelana sekena selera. Membiarkan intuisi membawa saya entah kemana.

Langkah kaki serasa menapak pada karpet yang habis dicuci. Tidak keras, tapi lembam dan licin lantaran bekas hujan pagi tadi. Bahkan sisa-sisa bau tanah basah masih mengambang di sana. Sesekali suara hewan asing sahut menyahut dalam bahasa yang tak bisa dimengerti. Berpadu dengan gemersik dedaunan yang digerakan oleh tangan tak terlihat.

Semua ini terasa seperti sebuah pertunjukan teatrikal. Live in concert yang tidak akan kamu temukan dalam metaverse sekalipun.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook9