Me-Time — Rutinitas akan menumpulkan pikiranmu jika kamu tak lakukan ini


Rutinitas akan menumpulkan pikiranmu jika kamu tak lakukan ini.

Hari demi hari melakukan rutinitas yang sama, pekerjaan yang sama, dengan orang yang sama pula. Keberulangan itu di satu sisi membuat kita nyaman, lantaran tak perlu berpikir. Di sisi lain, semakin lama pengulangan itu berlangsung, semakin lama otak kita tak berpikir.

Bangun tidur, makan, kerja, istirahat sebentar, makan lagi, kerja lagi, istirahat lagi, terus tidur. Besoknya begitu lagi. Aktivitas dilakukan tanpa jeda yang seringkali membuat kita lupa berpikir serta berkhayal tentang mimpi-mimpi yang pernah kita gantungkan di masa sebelumnya.

Sekedar melakukan aksi hanya karena itu sudah biasa dilakukan. Bukan karena benar untuk dilakukan.

Bahkan di malam hari, sebelum sempat melamun, sebelum sempat berpikir, badan sudah kelelahan lantaran kerja seharian. Mau melamun malah kebablasan tidur. Akhirnya mimpi-mimpi yang pernah digantungkan pun terlupakan. Dan besok ketika bangun nanti, mimpi-mimpi itu bahkan tak terlintas dalam tidur. Persis di jam yang sama keesokan harinya, kita melakukan aktivitas yang persis sama dengan kemarin — dan hari-hari sebelumnya.

Kadang saya merasa kalau manusia tak jauh beda dengan mamalia lainnya. Seperti domba yang bergerombol bersama menuju padang rumput mencari makan, lalu pulang ketika hari sudah petang. Tak pernah berpikir besok harus apa atau ingin apa. Pokoknya sekedar “ada” dan melewati hari. Tahu-tahu nanti sang gembala menggiringnya ke rumah jagal.

Adakalanya kita butuh waktu untuk diam sejenak. Tanpa melakukan apa-apa. Persis seperti mendiamkan air keruh begitu saja supaya kotoran mengendap dan air kembali jernih.

Dan dalam berkemah saya mendapatkan itu. Ketenangan itu.

Berkelana seorang diri menuju kaki gunung. Mendirikan tenda sendiri. Jauh dari peradaban.

Ketika mengeluarkan smart-phone, tak ditemukan sinyal. Saya tersadar kalau smart-phone saya telah berubah menjadi dumb-phone. Awalnya gelisah memang. Lantaran sudah kebiasaan men-scroll layar tanpa jeda — apalagi kalau lagi tak ada kerjaan. Tapi karena terpaksa akhirnya jadi biasa juga.

Justru di situlah indahnya. Tak ada telpon berdering, tak ada notifikasi, bahkan tak ada komunikasi dengan orang di luar sana. Sekedar melamun sambil menyeruput kopi hitam kental manis yang cepat sekali kehilangan asapnya. Dari kejauhan gemersik daun-daun pinus dan suara binatang-binatang hutan berbisik pelan-pelan.

Itu saja rasanya memberikan kesejukan tersendiri.

Saya jadi punya waktu untuk diri sendiri. Pikiran-pikiran yang sudah mengental hitam ini rasanya menjadi tenang. Kotoran-kotoran lama kelamaan mengendap. Dan pikiran pelan-pelan jadi lebih jernih dari sebelumnya.

Dan sepulang dari berkemah, pikiran saya jadi lebih tenang. Mimpi-mimpi yang dulu terlupakan kini kembali singgah.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook9