Penginapan Harumi Dieng & Mie Ongklok Longkrang


Saya terkejut ketika Google Maps menunjukkan bahwa saya telah sampai di penginapan Harumi Dieng. Lantaran saya masih di perkotaan, jauh dari hutan maupun gunung. Sementara setahu saya Harumi Dieng itu menjanjikan rumah kayu dengan pemandangan ke arah hutan dan pegunungan.

Terpaksa menarik nafas panjang. Berhubung sudah terlanjur memesan lewat aplikasi, mau gak mau saya mengetuk pintu depan, yang langsung disambut oleh Pak Ratno sendiri.

“Mas Ivan ya?” Saya mengiayakan.

“Ayo langsung masuk aja. Motornya masukin ke dalam aja biar aman,” katanya.

Saya menurut. Motor saya masukkan kedalam rumah.

Sekarang saya dibikin lebih heran lagi. Ini sekedar rumah biasa. Tembok semen, ubin keramik, dan kursi sofa persis seperti yang biasa ditemukan di rumah-rumah. Terus dimana rumah kayunya? Apa saya salah pesan?

Untung saja Pa Ratno segera mengajak saya ke halaman belakang. Barang-barang bawaan saya keluarkan dan sekalian dibawa ke belakang. Ternyata di sanalah rumah yang dijanjikan berdiri. Satu rumah kayu di lantai dua yang dikelilingi kebun luas dengan pohon-pohon yang tingginya jauh melebihi rumah kayu tersebut.

HARUMI DIENG -- Touring -- 300JAM.com

Dalam hati saya bersyukur karena ternyata gak salah pilih. Sambil menarik nafas panjang, saya selonjoran di bangku kayu yang ada di beranda, ditemani gemercik ikan-ikan yang bermain dalam kolam kecil. Gak lama berselang, Pak Ratno datang membawa minuman dingin dan keripik singkong yang enaknya bukan main.

“Itu jus terong Belanda, Mas. Khas daerah sini.”

Kerongkongan yang hampir mengerak ini menjadi segar kembali setelah menggeluguk jus bikinan keluarga Ratno ini.

“Panjenengan darimana toh?”

Saya jelaskanlah darimana mana saya berasal dan hendak kemana saya menuju. Dari situ kami ngobrol ngalor ngidul hingga kabut mulai turun.

“Mas, silahkan kalau panjenengan mau istirahat dan mandi-mandi dulu. Saya tinggal dulu ke dalam ya.”

Saya pun langsung menuju ke rumah kayu. Menaiki tangga kayu menuju kamar atas yang di luar dugaan teryata sangat eksotis.

HARUMI DIENG -- Touring -- 300JAM.com

Dinding disusun dengan kayu-kayu tebal persis seperti dalam kabin. Di kedua sisi berdiri dua jendela, dimana dari sana langsung terlihat keelokan hutan yang dikangkangi Gunung Pandawa. Kalau cukup beruntung dan hari gak berkabut, kita bisa melihat puncak gunung dengan jelas.

Sore hari di Dieng ternyata gak sedingin yang saya bayangkan. Dulu sempat berpikir kalau Dieng bakalan sedingin Bromo, ternyata tidak. Kalau kamu biasa berkemah di daerah Lembang, yah kurang lebih suhunya sama. Paling-paling sekitar 20 derajat di sore hari dan turun menjadi 15 sampai 17 di malam hari.

Setelah mandi air panas, saya menyeduh teh manis panas yang disediakan di situ. Gak lupa mengambil Kindle lalu nongkrong seorang diri di balkon rumah kayu sambil nyeruput teh yang perlahan kehilangan asapnya.

Badan sudah kecapekan, perut sudah kenyang. Anyep begini enaknya ya tidur. Gak lama setelah membenamkan diri dalam selimut yang tebal, mata terasa kian berat, dan akhirnya terlelap.

 
MENCICIPI MAKANAN KHAS DIENG
Besoknya, satu agenda yang wajib saya tunaikan adalah mencicipi satu mie yang cuma ada di Dieng. Mie Ongklok Longkrang.

Sungguh beruntung karena ternyata jarak Mie Ongklok Longkrang dari Harumi Dieng paling hanya 25 menit. Jadi begitu jam makan siang tiba saya langsung meluncur.

Mie ongklok plus lima tusuk sate sapi segera dipesan. Gak lupa es teh manis. Harganya ramah kantong lho!

MIE ONGKLOK LONGKRANG Touring -- 300JAM.com

Sewaktu pertama kali mencicip, saya langsung teringat sama lomie. Itu lho mie khas Bandung. Ya, kuahnya mirip sekali dengan lomie. Kental manis dan gurih dengan taburan bawang goreng kering di atasnya. Sementara sate sapinya diluluri kecap dan saus kacang yang didominasi dengan rasa manis.

Mungkin terdengar seperti gabungan antara lomie dengan sate sapi, tapi begitu keduanya dikombinasi dan masuk ke mulut kamu, satu cita rasa baru tercipta.

Luar biasa!

,

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook9