Ketika MAGIC BUS menjadi sebuah ILUSI


Seonggok mayat ditemukan dalam sebuah bus hijau putih berkarat bernomor 142. Mayat seorang pemuda tak dikenal yang tubuhnya habis digerogoti kelaparan dengan bobot hanya sekitar 32 kilogram. Tanpa identitas. Tanpa kartu pengenal. Tanpa uang ataupun barang berharga lainnya.

Yang ada di sana hanyalah setumpuk novel karya pengarang-pengarang Russia, buku botani, alat memancing seadanya, serta revolver yang bahkan takkan bisa membunuh beruang.

Dua campers dan tiga pemburu menemukan mayat yang terbungkus sleepingbag ini di atas kasur kapuk di dalam Bus 142, yang kelak disebut Magic Bus. Sementara pemuda ini berhasil diidentifikasi sebagai Chris McCandless.

Chris bukanlah orang terakhir yang mati dalam bus ini. Semenjak cerita Chris yang melegenda beredar, banyak sudah petualang yang mencoba meniru apa yang Chris lakukan. Mencoba menyeberangi sungai Teklanika yang deras lalu bergerak terus ke utara menuju padang Tundra. Dimana setelah lama berjalan bisa terlihat Magic Bus berdiri di sana.

BACA JUGA: Chris McCandless – Sang Legenda yang Berkelana untuk Tersesat (PART 1)

Di tengah alam liar dimana hukum rimba berlangsung tanpa campur tangan manusia, dimana yang buas bebas memangsa yang lemah, Magic Bus ini memberikan semacam ilusi. Ilusi bahwa dalam bus hijau putih berkarat ini seseorang bisa aman. Pintu besi bakal melindungi seseorang dari segerombolan serigala. Ranjang kapuk empuk berdebu bisa menjadi pembaringan yang cukup nyaman. Bahkan tungku pembakaran siap pakai di tengah-tengah bus, serta peralatan-peralatan kemah yang tertinggal, memberi ilusi seolah segalanya terkendali.

Namun alam liar tetaplah alam liar. Magic Bus ini hanyalah satu noktah putih dalam belantara tundra hijau yang maha luas.

Dan biarpun Chris menikmati dan menyadari kenyamanan itu, ia bukan kesana untuk itu. Karena sejatinya, seseorang berpetualang bukan untuk mencari kenyamanan. Malah sebaliknya seseorang berpetualang untuk bersahabat dengan ketidaknyamanan.

Bagi Chris, mungkin petualangannya adalah sebuah pemberontakan. Pemberontakan terhadap kebanalan dan kesia-siaan hidup. Pemberontakan terhadap kemunafikan manusia-manusia di sekelilingnya. Pemberontakan terhadap kedua orang tuanya yang selalu mencoba menyogoknya dengan uang dan harta sebagi kompensasi atas kurangnya waktu dan kasih sayang.

Di alam liar ini Chris McCandless bebas menjadi dirinya sendiri. Tak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Tak perlu pula mengikuti tuntutan sosial yang mengharuskan tetek bengek ini dan itu.

Tapi di sisi lain Chris juga menyadari ia tak bisa hidup seperti kebanyakan orang. Orang-orang yang menghabiskan waktunya dalam kubik-kubik perkantoran. Bangun dalam keadaan loyo, dipaksa bekerja bagai kuda, dan pulang dalam keadaan lebih loyo lagi. Mata seolah kosong tanpa harapan. Orang-orang yang sekedar “ada” tetapi tidak pernah hidup. Orang-orang yang telah menguburkan mimpi-mimpinya jauh sebelum mereka menguburkan badannya.

Chris adalah seorang pemuda yang tak hentinya melawan kemunafikan, tak hentinya memberontak terhadap congkaknya kehidupan. Karena mungkin baginya “I rebel therefore I exist.”


Leave a Reply

Your email address will not be published.

Facebook9